Jangan Lupa Komentarnya !

4/27/2009 09:07:00 PM
0

advertisements

Sesungguhnya fase kanak-kanak merupakan fase yang paling cocok, paling panjang, dan paling penting bagi seorang pendidik menanamkan prinsip-prinsip yang lurus dan pengarahan yang benar ke dalam jiwa dan perilaku anak-anaknya. Kesempatan untuk itu terbuka lebar. Segala sarana dan prasarana juga mendukung, mengingat pada fase ini anak-anak masih memiliki fitrah yang suci, jiwa yang bersih, bakat yang jernih, dan hati belum terkontaminasi debu dosa dan kemaksiatan. 

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang paling penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.
Anak merupakan amanah bagi orang tua. Hatinya yang suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong pada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, dia akan tumbuh dalam kebaikan, dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga pendidik dan gurunya. Tetapi, jika ia dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh guru dan walinya.

Mendidik dan mengajar anak termasuk hal-hal yang asasi dan wajib dilaksanakan setiap muslim yang komit kepada agama yang hanif (lurus) ini. Mendidik dan mengajar anak merupakan perintah dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Allah swt. Berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (terdiri dari ) manusia dan batu...” (QS. At-Tahrim : 6)


Saat ini anak-anak mengalami krisis keteladanan. Hal ini terjadi karena sedikitnya media masa yang mengangkat tema tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangan-tayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau infotainment tidak diharapkan memberikan contoh kehidupan Islami secara utuh. Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi teladan pada pelajaran-pelajaran ke islaman di sekolah juga masih rendah

Dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka, orang tua sudah selayaknya menjadi figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. Untuk itu ada kiat-kiat yang bisa dilakukan oleh orang tua agar menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak Islami pada anak.


Ke 1, orang tua hendaklah mengenalkan tokoh-tokoh teladan dalam Islam. Yaitu dengan banyak membaca sirah Nabi Muhammad saw. Dan juga profil orang-orang shalih. Internalisasi bacaan ini akan membentuk pribadi berakhlak terpuji, sehingga pantas menjadi salah satu panutan bagi anak. Bacaan ini juga sekaligus menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada anak-anak.

Ke 2, menghargai nasihat dan kebenaran meskipun dari seorang anak kecil. Pada masa kejayaan peradaban Islam banyak kisah tentang kedudukan anak-anak yang dihormati pemimpin saat itu. Akar dari kondisi ini adalah didikan dari Rasulullah saw. Terhadap para sahabat. Ibnu Mas’ud pernah dinasihati beliau dengan kalimat, “Sembahlah Allah dan jangan kau sekutukan dengan yang lain. Berjalanlah kamu bersama Al-Qur’an di mana pun kamu berada. Terimalah kebenaran dari siapapun, baik dari anak kecil ataupun dari orang dewasa, meskipun ia adalah orang jauh yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapapun, baik dari anak kecil atau orang dewasa, meskipun itu adalah orang dekat yang kamu cintai” (HR. Ibnu Asakir dan Ad-Dailami).


Ke 3, mengajak dan mendorong anak untuk membaca kisah-kisah orang teladan. Orang tua berperan memilihkan buku yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan dan pemikiran anak. Untuk anak yang telah menginjak usia remaja, orang tua dapat berdiskusi dengan mereka dalam memilih buku-buku yang menjadi minat mereka.

Ke-4, mengajak anak berkesempatan berdialog dengan orang-orang shalih. Banyak riwayat menceritakan bahwa para sahabat mengajak anak-anak mereka untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. Hadits yang berbunyi, “Wahai nak, sebutlah nama Allah, lalu makanlah makanan yang dekat denganmu....” (h.r. Bukhari) disampaikan Rasulullah saw. Kepada anak seorang sahabatnya yang diajak berkunjung kepada beliau oleh ayahnya.

Ke 5, pada fase pembiasaan (terutama untuk anak usia balita), orang tua hendaknya termotivasi untuk senantiasa merujuk kepada perilaku Rasulullah saw. Ketika membetulkan sikap atau perilaku yang keliru dari anak.

Ke 6, pada fase remaja, orang tua hendaklah mengalokasikan waktu dialog dengan mereka tentang kondisi ideal yang diharapkan ada pada mereka. Suasana dialog juga dipilih agar mereka nyaman dalam mencaerna nilai-nilai yang hendak ditanamkan.

Ke 7, mengirimkan anak-anak ke sekolah-sekolah yang memiliki pendidik berakhlak mulia serta memiliki ilmu yang berkualitas, sehingga kepribadian anak-anak terbina dengan baik.


Ke 8, selain kepada Nabi Muhammad saw, yang memang menjadi contoh manusia berakhlak paling mulia, pengambilan contoh keteladanan kepada siapapun bukanlah peleburan kepribadian (meniru keseluruhan). Setiap orang memiliki kekhasan, karenanya seseorang tetaplah mesti menjadi diri sendiri dan menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Karenanya ketika mengarahkan anak untuk meneladani seseorang, orang tua pun hendaknya tetap mendorong anak untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada Nabi kita Muhammad saw., seorang guru dan pribadi yang amat lemah lembut, yang banyak memberi teladan yang baik kepada umat Islam.
Pelajar merupakan salah satu unsur dari sebuah rangkaian pendidikan. Pendidikan sendiri diambil dari kata dasar didik, yang didalamnya terdapat arti yang luas yaitu transformasi intelektual, transformasi nilai-nilai moral dan kespiritualitasan. Mendidik tidak sama dengan mengajar, ia memiliki makna yang lebih luas, terus menerus dan didalamnya juga terdapat proses mengajar. Perbedaannya, mengajar hanya sebuah transfer ilmu dan pengetahuan dari seorang pengajar dan yang diajar. Sedangkan mendidik lebih memerlukan keteladanan dari sang pendidik. Jadi mendidik lebih berorientasi pada proses, bukan hasil.


Dalam sebuah pendidikan haruslah ada sebuah keteladanan dari sang pendidik. Ia wajib memiliki software keteladanan yang telah terinstal dalam dirinya. Karena dirinya merupakan figur yang akan dilihat dan ditiru oleh siswanya. Yang akan menjadi panutan dan acuan dalam mengarungi kehidupannya yang penuh dengan problematika. Hal inilah yang masih menjadi tanda tanya besar bagi pendidik ataupun guru saat ini. Suatu hal amat sangat berharga yang kian hari semakin terkikis hilang dalam pribadinya. 

Jika kita menginginkan para siswa mencintai Alloh dan Rosul-Nya, maka kita sendiri haruslah mencintai Alloh dan Rosul-Nya pula. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syari’at jika sang guru masih bermaksiat kepada Alloh. Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Alloh jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah. Dan pula akan terasa sulit untuk membentuk siswa yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika gurunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita ajarkan kepada para siswa hanya akan menjadi teori belaka. Mereka tak ubahnya gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah terwujud dalam kehidupan. 

Seseorang yang ingin mengadakan perubahan dalam dirinya haruslah ada perjuangan yang hebat dalam dirinya itu. Jika kita ingin menghilangkan sifat buruk yang menjadi kebiasaan kita, maka haruslah ada upaya dan pengekangan diri untuk tidak melakukannya lagi. Misalnya saja seorang yang memiliki emosi yang tinggi, maka ia harus berlatih untuk mengendalikannya sekuat mungkin dalam dirinya. Semua hasil dari perilaku kita akan dilihat oleh orang lain. Jika kita melakukan perbuatan baik, maka orang akan menilai kita sebagai orang baik dan itulah yang akan terekam dalam benaknya. Begitu juga sebaliknya jika kita melakukan perbuatan yang tidak terpuji, maka itulah yang akan menjadi ingatan bagi siapa saja yang melihatnya. Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukannya dan sebaliknya.

Maka dari itu hendaknya kita sangat berhati-hati dalam menjaga setiap tindak tanduk kita. Terlebih lagi kepada seorang guru yang akan sangat diperhatikan oleh anak didiknya. Jangan sampai ia teladan yang buruk bagi siswanya, karena fatal akibatnya jikalau terjadi hal yang demikian. 

Betapa agungnya Rosululloh SAW. Pribadinya begitu elok memancarkan kharisma keanggunan yang sangat sempurna. Kemuliaan akhlaknya mendapat sanjungan langsung dari Alloh Tabaaroka wa Ta'ala, "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung" (Al-Qolam [[68] : 4).



Adakah sosok figur ideal yang lebih patut untuk dijadikan sebagai suri tauladan dalam hidup selain seorang yang keagungan pribadi dan akhlaknya telah mendapat "pengakuan Ilahiyah" secara langsung dari Dzat Yang Maha Agung? 

Setiap kata yang terucap dari bibir beliau adalah mutiara berharga yang tiada tara. Setiap gerak-gerik tubuh beliau adalah permata mulia yang tiada cela. Setiap watak dan sifat yang terpantul dari kepribadian beliau yang anggun adalah keindahan yang mengagumkan bagi setiap makhluk Alloh yang ada di langit dan bumi.

Alangkah indahnya, jikalau seorang guru memiliki sifat semacam itu. Ia akan menjadi tempat berteduh bagi para siswanya. Ketika anak didiknya memiliki sebuah problematika kehidupan sang guru hadir memberikan solusi yang bijaksana dalam mengatasinya. Sang murid pun akan merasa kehilangan jikalau sang guru tidak hadir ketika ia sangat membutuhkannya. Ia rindu akan keteladanan, kebijaksanaan, dan kearifan sang pahlawan tanpa tanda jasa yang hanya mengharapkan ridho-Nya.
Namun, sangatlah sedikit kenyataan hal semacam ini kita temukan dalam lingkup suatu lembaga pendidikan. Rasanya ada sesuatu yang amat sangat berharga yang hilang. Tiada yang lain melainkan sebuah keteladanan dari sang guru.
Semoga hal ini bisa menjadi cambuk hati yang akan membawa kita menuju hari esok yang lebih baik lagi. Sesuatu yang hilang pun akan segera diketemukan dengan kesungguhan dan kesabaran bagi siapa yang menginginkannya.

Pendidik adalah penebar kebaikan, pendidik adalah pengemban amanah, pendidik merupakan rujukan orang yang membutuhkan saran dan aspirasi, pendidik (yang beriman) menempati posisi yang mulia jauh dari kedudukan orang-orang yang beriman, pendidik selalu dijadikan motivasi dari ide dan saran serta ilmunya jika pendidik mampu menjalankan amanah ilmiah yang harus diembannya sebagai pembawa ilmu.
Anak didik adalah proyek dari para pendidik yang bisa diwarnai dengan berbagai warna dan karakter guna menjalani kehidupan di masa mendatang. Anak didik ibarat kertas putih yang menerima coretan apa saja yang menempel. Maka kesuksesan bagi para pendidik keteladanan seharusnya menghiasi dirinya - yang selalu dipantau anak didik- dhohir terlebih hal-hal yang tidak nampak / bathin.

Hal-hal yang batin barangkali tidak mampu terlihat langsung oleh anak didik namun dampak dari batin lebih besar karena hubungan batin antara pendidik dan anak didik tidak terlepas kerena jauhnya jarak.

Mungkinkah seorang pendidik yang mendambakan kesuksesan anaknya menampilkan hal-hal yang kontradiktif dengan ilmu yang disampaikan?! Wallahu a'laam


ditulis ulang Oleh Yudithea
Penulis :
Teh Emilia
Abu Iza Abu Muzni
Mahajalah al-mukmin_ngruki
Referensi:
Tumbuh di bawah Naungan Ilahi, by Syaikh Jamal Abdul Rahman. Penerbit: Media Hidayah, Tahun 2002.
Arti Penting Keteladanan dalam Pendidikan Anak, by Ustd. Adi Junjunan Mustafa
Pendidikan Anak dalam Islam, by Yusuf Muhammad Al-Hasan.

advertisements

0 komentar:

Post a Comment